Paniki Atas Berdarah, Pattiwael Bangga Kinerja Resmob Polres Minut Dan Polsek Dimembe


Hanya 9 Jam Saja, 13 Pelaku Ditangkap Beserta 7 Alat Bukti Sajam

1 Jam Kemudian, Polres Minut Sudah Mampu Ungkap Motif Pembunuhan (10 jam)

MINUT, IdentitasPrime – Rumor beredar bahwa kepemimpinan Kapolres AKBP Alfaris Pattiwael SIK Mh, cukup dekat dengan kasus kejahatan dan kekerasan (jatanras), namun ada daya tarik tersendiri yang dimiliki Pattiwael dan jajarannya, terutama di Satuan Reserse Kriminal yang di nahkodai Kasat Reskrim AKP Ronny Maridjan.

Pasalnya, dihampir semua kasus pembunuhan yang terjadi di wilayah hukum Polres Minut, tak pernah sekali saja aparat seragam cokelat ini menemui jalan buntu alias tak mampu pecahkan kasus walau serumit apapun.

Sebut saja kasus pembunuhan di Desa Rinindoran Likupang Timur, dan pembunuhan di Desa Batu Kecamatan Likupang Selatan. Keduanya mampu dipecahkan hanya dengan rentang waktu relatif singkat.
Hal itu bukan suatu kebetulan, sebab ada beberapa kasus juga terjadi, dan mampu dituntaskan AKBP Alfaris Pattiwael dan jajarannya.

Kasus terbaru yang menghebohkan Provinsi Sulawesi Utara adalah, peristiwa PANIKI ATAS BERDARAH. Menariknya TKP dan korban, adalah masyarakat Minahasa Utara. Sekali lagi ketajaman Reserse mobile (Resmob) Polres Minut di uji.
Namun, pasukan gabungan Resmob Polres Minut dan Buser Polsek Dimembe berkordinasi dengan Resmob Polresta Manado, dibawah komando Kasat Reskrim Polres Minut, AKP Ronny Maridjan, kembali membuktikan kepiawaiannya.

Dalam waktu 9 jam (pukul 00.00 – 09.00 wita),13 pria terduga terlibat kasus pembunuhan atas Tedy Emor, (35), Warga Desa Paniki Atas, Jaga V, Kecamatan Talawaan, di jalan Perum Villa Mutiara Desa Paniki Atas, Jaga V, Kecamatan Talawaan, Minahasa Utara (Minut), Minggu (18/2/2018), hanya dalam waktu sembilan (9) jam saja.

Peristiwa berdarah itu berawal pada 17 Februari 2018 ada pesta nikah. Pada 18 Februari 2018 sekira Pukul 01.30 dini hari terjadi tindak pidana penganiayaan kepada Alfa Wantania dan Atria Mandolang oleh pelaku yang tidak diketahui.

Kemudian masuk laporan ke polisi terhadap kasus penganiayaan tersebut. Dan dari tim cyber Polres Minut melakukan pemantauan.
Polres menemukan ada akun Facebook milik dari Alfa Wantania berupa ujaran kebencian dituliskan akan melakukan balas dendam.

Teman-teman Alfa diduga kuat pada18 Februari 2018 ingin mencari pelaku penganiayaan tersebut. Saat dijalan diduga 13 pria tersebut melihat korban Teddy Emor dan Ariel Rorong. Mendekati kedua korban kemudian 13 Pria tersebut diduga melakukan penganiayaan bersama-sama dengan menggunakan senjata tajam dan mengakibatkan Teddy meninggal dunia dan Arel mengalami kritis.

Kapolres Minut AKBP Alfaris Pattiwael saat konfrensi pers menjelaskan, kedua korban tidak sama sekali tersangkut dengan penganiayaan kepada Alfa dan Atria. Diduga ke-13 pelaku yang sudah mengkonsumsi miras, salah sasaran.

“Benar terjadi kasus pembunuhan pada 18 Februari 2018 sekira Pukul 22.30 Wita. Korban Tedy Emor meninggal dunia dengan luka tusukan dibagian lambung, diduga dilakukan oleh 13 pria,” ujar Pattiwael didampingi Wakapolres Kompol I Made Dewa Palguna, Senin (19/2/2018), kepada wartawan.

Menurut dia, dimana ada dua korban yakni Teddy dan Arel Rorong, 28, Warga Desa Paniki Atas Jaga VII, Kecamatan Talawaan, Minut. Namun, Arel sendiri hingga saat ini dalam perawatan di rumah sakit.

“Dibawa pimpinan Kasat Reskrim AKP Ronny Maridjan Tim Resmob dan Polsek Dimembe langsung melakukan pengejaran. Alhasil berhasil meringkus 13 pria dan diamankan ke Polres Minut,” terang dia.

Sementara itu, barang bukti yang diamankan yakni, satu pisau panjang 50cm, satu pisau panjang 30cm, satu pisau panjang 20cm, satu pisau panjang 15cm, satu pisau panjang 34cm, satu parang panjang 40cm, satu pisau panjang 80cm.

“Sementara itu tersangka yang diamankan yakni, MM, (21) (pelaku utama), AM, (21) (pelaku utama), JM, (21), IL, (17), JK, (16), RS, (26), DM, (31), AM (15), BW, (17), RK, (20), NS, (18), FM, (18), JR, (19),” terang dia.

Tesangka, lanjut Kapolres Minut, ditetapkan pasal 340 junto 170 subsider pasal 3-5, tentang pembunuhan berencana yang mengakibatkan korban meninggal dunia.

“Hukuman seumur hidup dan bisa hukuman mati karena merupakan pembunuhan berencana dengan adanya tujuh alat bukti senjata tajam,” jelas dia.
Senyum puas terukir dipipi Kapolres Minut, ketika ditanya, berapa lama pihaknya mengungkap tragedi Paniki Atas ini.
“Satu kebanggaan tersendiri bagi kita, karena kejelian dan kerja keras Resmob Reskrim Polrea Minut dan Polsek Dimembe, sehingga dalam waktu tak sampai 24 jam, motif pembunuhan dan para pelaku pembunuhan, dapat kita simpulkan dan kita amankan,” pungkas Kapolres Minut, AKBP Alfaris Pattiwael.

Perlu diketahui, peristiwa pembunuhan itu terjadi pada pukul 22:00 wita, sesangkan tim Resmob gabungan bergerak pada pukul 00:00 (jam 12:00 dinihari).

Pukul 09:00 wita, Kasat Reskrim Polres Minut, AKP Ronny Maridjan dan Kapolsek Dimembe, AKP Saguh Rianto telah melapor ke Kapolres bahwa mereka telah menangkap dan menetapkan bahwa ke-13 lelaki ini adalah para pelaku pembunuhan Paniki Atas.

Bukan itu saja, selang satu jam kemudian, Polrea Minut telah mampu mengungkap apa motif dari pembunuhan tersebut.(Jo)